Yang Ditunggu Berlalu

Minggu, Desember 30, 2007 with 0 komentar »

Pernah dipublikasikan di Harian Radar Bogor, 21 Nov 2004

Dengan nama pena Anzhoel Miftahul Hattaya

Pagi ini langit nampak cerah. Udara yang mengalir halus membawa aliran panas hingga membuat gerah. Meskipun di dalam kamar, dia sudah dapat merasakan dan membayangkan panasnya mentari pagi kota ini. Terlebih lagi jika kemarau datang, bau udara yang dibawa sang Angin terasa kering. Guguran dedaunan berserakan di jalanan. Debu beterbangan dilindas kendaraan yang lalu lalang. Ada mobil, ada motor, ada becak, ada gerobak sayur, ada anak-anak sekolah, ada penjual tempe dan penjual ayam. Semuanya berhamburan menciptakan suara-suara bising. Membangunkan debu-debu yang tidur. Membangunkan orang-orang yang masih pulas. Seakan-akan memproklamirkan lahirnya sang Surya.

Dia masih saja berbaring memandangi langit-langit kamar. Di sana ada sulaman jarring laba-laba. Cahaya silau menerobos masuk jendela kamarnya yang sempit, yang memang sudah terbuka sejak subuh tadi. Dia merasa malas untuk bangkit dari pembaringan. Mungkin juga belum mau bangun. Tak ada alasan yang bisa memaksanya untuk bangun, bangkit, lalu bergegas seperti yang dilakukan orang-orang di luar sana.

“Kamu ini kenapa, kok ngunci diri terus sih? Sakit yah? Jatuh cinta? Tak ada kiriman? Atau persoalan kerja? Ngomong dong. Ngomong! Atau kamu lagi semedi? Ah...jangan-jangan kamu sedang belajar ilmu sihir ala David Coperfield, agar bisa lulus wawancara kerja? Atau mungkin menyihir pemerintah agar mengembalikan pesawat canggih Sukhoi Rusia. Iya, kan? Ngaku aja deh! Loh kok diam aja sih? Ngomong dong, ngomong!” celoteh temannya penuh selidik dan asal-asalan, pada suatu antrian panjang depan WC umum indekosan.

“Huuuuuhh...” dia menghembuskan napas perlahan-lahan, setelah satu tarikan dalam-dalam. Seperti ada beban yang menyesakkan dadanya. Sudah setahun lewat sejak dia sarjana, tapi belum juga dapat kerja. Padahal teman-teman seangkatannya sudah banyak yang bekerja di berbagai perusahaan dan instansi. Kalau saja bukan karena desakan orang tuanya, mungkin dia tidak akan sesedih sekarang ini.

“Nak, cepatlah kau cari kerja, supaya ayah dan ibumu bisa merasa tenang. Supaya kami bisa melihatmu cepat-cepat menikah. Supaya kami bisa menimang cucu segera. Supaya kami bisa cerita ke orang-orang kampung kalau kamu sudah sukses. Bukannya kami tak sanggup membiayaimu, tapi apa kata orang nantinya. Kalau anak ayah seorang pengangguran. Malu kan?” kata ayahnya suatu saat lewat telepon dari kampung. Penyesalan lewat alat komunikasi itu pun masih saja berlanjut. “lihatlah nak, lihat tetangga sebelah, anaknya sudah bekerja di bank swasta. Trus tetangga depan, anaknya sudah menjadi polisi. Belum lagi tetangga yang di ujung gang sana, anaknya sudah kerja di perusahaan asing. Sementara anak seorang tokoh yang disegani di kampung ini, yaitu kamu hanyalah seorang pengangguran. Oh..aku malu nak! Malu sekali!.

Sebenarnya Bonga ingin sekali mengatakan kalau mencari kerja tidaklah mudah. Tidak gampang. Tidak segampang waktu jaman dulu ayahnya mencari kerja. Sekarang ini era persaingan. Belum lagi, kalau suatu instansi atau perusahaan meminta syarat yang bermacam-macam. Kartu kuning-lah, surat keterangan dokter-lah, surat keterangan belum nikah-lah, surat berkelakuan baik-lah, pokoknya macam-macam. Tapi bukan itu yang membuatnya pusing, melainkan prosedur administrasi yang bertele-tele dan berbelit-belit serta selalu membuat pailit. “Menyebalkan!”. Tapi saat itu Bonga masih malas untuk berdebat. Dia hanya mengangguk-angguk meng-iya-kan agar pembicaraan itu cepat selesai.

“Kriiing!...kriiing!...kriiing! Dia tak begitu peduli dengan apa yang didengarnya. Sagem itu berbunyi dari atas meja belajar. Saat ini dia sedang tidak mood untuk berbicara dengan siapapun. Dia hanya ingin terus berbaring, sambil memandangi laba-laba yang sedang menyantap nyamuk-nyamuk yang telah mengisap darahnya semalam. Dan handphone itu pun berhenti berdering.

it’s boring! Bosan! Batinnya. Entah sudah berapa banyak lamaran yang sudah diposkan, tapi belum juga menuai hasil apa-apa. Jangankan kerja. Balasan surat lamaran saja belum ada satupun. Walaupun itu hanya sekedar pemberitahuan penolakan. Agar tidak ada lagi hati yang lelah karena penantian yang tak berujung. Hari-hari menjadi pengangguran memang membosankan!.

Dari luar kamar terdengar suara TV berbicara banyak hal. Mulai dari melemahnya rupiah, bom Bali, bom Kuningan, penggelapan uang, Aceh, perkosaan, sampai pada prihal pengejaran terhadap tentara-tentara Saddam yang masih loyal. Namun tak satupun membahas mengenai penanggulangan pengangguran. “Puiih! Nonsens! Maki Bonga dalam hati mendengar berita yang hampir tiap hari sama saja.

“kriiing!...kriiing!...Kriiing!...handphone itu menyalak lagi. Seakan-akan minta sedikit perhatian dari tuannya. Bonga menoleh sejenak hanya sekedar memastikan kalau itu benar-benar bunyi handphone-nya, bukan bunyi telepon tetangga, ataupun bunyi klakson sepeda tua penjual ikan yang mungkin lewat. Dia masih tak ingin mengangkatnya. Atau bangun untuk me-non-aktifkannya saja. Namun itu tidak dilakukannya. Mungkin dia berpikir, kalau nanti sempat atau ada mood, dia bisa saja melihat siapa-siapa yang telah menelponnya. Dia hanya bisa menduga-duga kalau itu hanya telepon dari temannya yang mungkin ingin mengajaknya ngobrol, lalu bercerita tentang pacar barunya yang cantik. Mernyebalkan! Atau mungkin juga itu telepon dari sang Pacar yang hendak ditemani ke suatu tempat, beli baju di mall misalnya. Lalu si pacar minta pendapat mengenai setiap baju yang dipilih ini dan itu. Belum lagi jika belanjaannya menggunung. Sehingga kepala tak tampak jika membawanya. Ini memang menyebalkan!. Tapi mungkin juga itu telepon dari ayahnya yang ingin menanyakan hal yang sama seperti sebelumnya. ‘uhh, lagi-lagi hidup ini menyebalkan.

Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan, sementara Bonga masih terus berbaring di atas temapt tidur. Ada sedikit kecewa dalam dirinya. Kopian ijazahnya yang berjumlah 89 lembar itu sudah habis. Berserakan entah dimana. Mungkin sudah menjadi penghias meja-meja kantor, atau menjadi pelengkap arsip di laci-laci perusahaan, atau mungkin juga menjadi penghuni tempat sampah di suatu instansi pemerintah. Tapi entahlah.

Dia selalu berpikir, seandainya saja dulu dia mau mengeluarkan sejumlah uang tertentu, mungkin dia sudah menjadi pegawai Bank saat ini. Seandainya saja ia mau mendengar nasehat temannya untuk mendongkrak IPK-nya menjadi lebih tinggi lagi melalui calo-calo administrasi akademik kampus, mungkin sudah ada perusahaan yang menerimanya. Mungkin. Dan mungkin. Dan memang hanya mungkin. Tapi bagi Bonga “it’s embarrassing! Memalukan!. “apakah orang-orang jujur tak ada temapt di dunia ini? Apakah negara ini tak butuh lagi orang yang jujur?”.

Sebenarnya Bonga ingin sekali berteriak “ go to the hell for the clean government issue”, tapi dia merasa sudah sangat letih mengutuk, menyumpah, memaki, dan mengkambinghitamkan. Dia lelah dan akhirnya terlelap. Terbang ke dunia khayal, dunia mimpi, dunia dimana kejujuran mungkin masih sangat dihargai.

“kriiing...!kriiing!...kriiing!....kini handphone itu kembali berteriak-teriak. Bahkan lebih keras dari sebelumnya. Seperti ingin membangunkan majikan yang sudah terbang tinggi bersama mimpi-mimpinya, jauh dan jauh dari alam sadarnya. Lama tak digubris akhirnya deringan itu pun diputus oleh seseorang yang jauh dari tempat itu. Jauh dari kamar yang sempit itu. Jauh dari indekosan yang penuh dengan pengangguran itu. Di suatu tempat dimana orang-orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Melewati gedung-gedung tinggi dan perkantoran. Di antara wajah-wajah serius di depan komputer, di tengah orang yang serba tergesa-gesa dengan sejumlah map terkepit di ketiak. Dan kemudian memasuki ruangan yang di pintunya tertulis: “Human Resources Department”.

“Klaak!” terdengar suara telepon yang dikembalikan ke tempatnya.

“Bagaimana? Sudah ditelepon?”.

“Sudah, Pak!”

“Lalu?”

“Tidak diangkat, Pak!

“Coba sekali lagi, mungkin orangnya belum dengar!”

“Sudah, Pak!

“Coba dulu lah lagi, kalau perlu sampai tiga kali!”

“Ini sudah yang ketiga kalinya, Pak!”

“Kalau begitu sudahlah, mungkin ia memang hanya seorang pemalas yang menyebalkan!”.

Makassar 7 agustus 2003 – September 2004

0 komentar